Didier Deschamps Meminta Anak Buahnya Untuk Rileks

Didier Deschamps

Didier Deschamps di ambang sejarah selaku pemain, kapten, dan manajer yang akan mendapatkan trofi Piala Eropa. Dia menganjurkan untuk anak besutanya tetap santai namun juga harus tetap fokus menjelang pertandingan final kontra Portugal.

Jiwa sebagai pemimpin Deschamps sudah diasah kala masih berstatus sebagai pemain. Dia adalah kapten tim Prancis kala menjadi juara Piala Eropa tahun 2000. Dua tahun sebelumnya, Deschamps sudah sukses menjadi kapten bersama-sama timnas Prancis yang menjadi juara Piala Dunia.

Senin, (11/7/2016) dinihari WIB, dia memiliki sebuah kesempatan untuk melanjutkan kesuksesan dirinya sebagai manajer yang membawa timnas Prancis menjadi juara Piala Eropa.

Atas semua pengalamannya, Deschamps mengingstruksikan anak didikannya untuk berperforma santai dan tidak memusingkan final dengan berlebihan. Dia mengajukan permintaan ke anak besutanya supaya menjadikan pertandingan final seperti halnya paduan antara pertandingan di putaran-putaran sebelumnya namun juga menjadi sebuah pertandingan yang menarik.

“Ya, gabungan keduanya. Ini masa-masa yang fantastis lantaran akan menjadi penentuan derajat, namun tak harus memusingkanya hingga berlebihan,” ucap Deschamps.

“Apa yang mesti diperbuat ialah sedapat mungkin untuk tampil tenang dengan di waktu yang sama juga mesti fokus total dengan laga.”

“Jika kalian menikmati olahraga, itu terasa berbeda. Pada tingkatan yang tertinggi tidak ada yang lebih indah daripada kemenangan dan juara. Hanya itu yang dapat dihitung.”

“Tak ada soal kepastian, bukan sains, mungkin saja kalian tak memperoleh kemenangan namun kalian masih harus bermain habis-habisan untuk menorehkan kemenangan dan memang harus seperti itulah pemikiran kami,” lanjutnya.

Deschamps tak hanya memiliki catatan sejarah yang oke dengan timnas, dia juga sebagai kapten kala Olympique Marseille menjadi juara Liga Champions 1993 dan membawa Monaco menjadi runner-up Liga Champions 2004.

“Saat saya menerima tugas ini, saya tak hanya mau menjadi bagian dalam tim namun juga mau merasakan momen seperti ini,” sambungnya.

“Posisi terbaik adalah di tengah lapangan. Ada semacam perasaan kecewa saat saya berdiri di atas kaki sendiri namun saya tidak dapat melakukan apapun,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *